Sejarah Trimurti

 

Yayasan Pendidikan Umum

 

Yayasan pendidikan umum untuk kebudayaan yang semula bernama Universal Cultur Centre adalah sebuah yayasan yang bergerak di bidang pendidikan non formal. Mula - mula yayasan ini mengelola sebuah museum sebagai penyimpanan benda bersejarah yang ada di jawa timur. gedung museum ini terletak di atas tanah seluas 3600 m2 di jalan pemuda no. 3 Surabaya kini Jl. Gubernur Suryo, gedungnya di bangun pada tahun 1963 membujur dari timur ke barat menghadap ke jalan besar, merupakan gedung permanen. Di muka gedung di sisi sebelah timur terdapat gedung yang membujur dari utara ke selatan yang menghadap ke barat dan merupakan gedung permanen pula dengan empat buah ruangan. Di gedung A dan B inilah tempat menyimpan benda bersejarah di simpan. Pada tahun 1949 di belakang gedung utama (gedung A) di bangun gedung non permanen berlantai ubin dan berdinding sesek (gedek ) yakni gedung C dan D gedung eliminasi merupakan sebuah aula untuk pertunjukkan(cinema) Direktur museum ini adalah seorang belanda keturunan jerman bernama Mr. Von Vaber. Yayasan ini selain mengelola museum juga bergerak di bidang pendidikan non formal, bermacam - macam kursus seperti kursus bahasa belanda, mengetik tata buku (akuntasi), korespondensi bahasa Indonesia. Bahkan yang ingin berdansa – dansa pun di sini juga tersedia kursusnya. Salah satu guru yang memberikan kursus bahasa inggris di sini adalah bapak Muhammad Ridwan yang kemudian menjadi kepala sekolah pertama.

Gagasan Mendirikan Sekolah


        Pada tahun 1954 surabaya bermunculan lembaga pendidikan non formal, baik di dalam kota maupun di pinggir kota. Rupanya pada saat itu ilmu pengetahuan sudah merupakan kebutuhan pokok, kita sudah sadar bahwa ilmu pengetahuan lah yang dapat kita jadikan bekal untuk kehidupan berikutnya dalam masyarakat, sehubungan dengan munculnya kursus - kursus itu, maka pendidikan umum yang semula mendominasi kursus - kursus pada waktu itu dan menjadi tumpuhan masyarakat kini mulai berkurang jumlah pesertanya.
        Untuk mengurangi berkurangnya peserta kursus serta agar pemasukan keuangan tak berkurang, maka Mr. Von Faber sebagai direktur pendidikan umum sekolah di kala itu menawarkan kepada bapak Moh. Ridwan untuk mendirikan sekolah dan pendidikan umum yang menyediakan tempatnya. Bapak Moh. Ridwan yang memang berjiwa pendidik mendapatkan tawaran seperti itu sangatlah gembira. Bagi beliau tawaran itu ibarat pucuk di cinta ulam pun tiba, awak rindu berkasih datang. Bapak Ridwan memang bercita-cita mendirikan sekolah, akan tetapi lokasinya yang tidak ada. Nah tawaran itu tidak di sia-siakan apalagi tempatnya sangat strategis dan bisa beroperasi pagi hari, sebab sekolah swasta lain masuk siang hari. Pada waktu itu semua gedung SD, SMP, dan SMA yang ada di tengah kota sudah ditempati SMA swasta dan masuk siang hari seperti SMA Mahasiswa (bertempat di SMA 4 Ambengan), SMA Dr. Wahidin (bertempat di SD Asem Rowo), SMA Nusantara (bertempat di SD JI. Semarang). Bapak Moh. Ridwan sudah mengajar di STER (Sekolah Teknik Elektro Radio) bertempat di jalan Anjasmoro No. 67 Surabaya.
        Tawaran dari Mr. Von Faber yang menyediakan tempat di jalan pemuda No. 3 (kini JI. Gubernur Suryo No. 3) ini tentu saja disambut oleh bapak Moh. Ridwan dengan ibu Soenarsih yang pada waktu itu menjadi guru ilmu pasti di STER. Kemudian pembicaraan selanjutnya di teruskan di rumah bapak Moh. Ridwan dengan ibu Soenarsih dan bapak RM Prijono yang pada waktu itu menjabat sebagai wakil kepala sekolah SMA Budi Utomo. Pokok pembicaraan kala itu adalah hasrat untuk mendidikan sekolah umum. Bapak Moh Ridwan cenderung mendirikan SMP, sedangkan ibu Soenarsih cenderung mendirikan SMA. Akhirnya pada pertemuan itu di putuskan bahwa untuk mematangkan rencana hendaknya di adakan rapat resmi dengan mengundang kawan-kawan yang sudah terjun di dunia pendidikan yang di anggap kapabel.
 

Pertemuan Resmi

        Sebagai tindak lanjut dari pembicaraan tidak resmi antara bapak Moh. Ridwan dengan ibu Soenarsih dan Bapak Priyono, maka pada hari minggu tanggal 8 Agustus 1954 dengan mengambil tempat di rumah ibu Soenarsih di tembok dukuh Gg. VIII No. 2 diadakan rapat khusus untuk mendirikan sekolah umum. Hadir dalam rapat tersebut adalah: 1. Bpk. Moh. Ridwan (Guru Bhs. Inggris di PU dan STER, 34 th) 2. Ibu Soenarsih (Guru SMA Budi Utomo, 21 th) 3. Bpk. RM Prijono (Guru SMA Budi Utomo, 24 th ) 4. Bpk. Moertojo Poerbonegoro (Guru SMA Budi Utomo, 23 th) 5. Bpk. Soepeno (Guru SMP Taman Pelajar, 26 th) 6. Bpk. Soeroso (Guru SMA Mahasiswa dan SGTK, 30 th) 7. Bpk. Herman Wasono (Guru SMA Bhineka , 24 th) 8. Bpk. Abd. Rahman asj'ari (Guru SMA Ganesha, 24 th)         Dalam rapat tersebut yang di ketuai oleh bapak Moh. Ridwan di putuskan bahwa sekolah umum yang akan didirikan yayasan pendidikan umum. SMA yang didirikan ini diberi nama TRIMURTI. Kemudian pada keesokan harinya senin 9 Agustus 1954 kami memasang iklan di harian surat kabar SUARA RAKYAT HARIAN UMUM untuk tiga hari 10 Agustus 1954 sampai dengan 12 Agustus 1954. Berdatanganlah para pendaftar. Jumlah yang di terima pada waktu itu terbatas sekali hanya 80 orang untuk 2 kelas masing – masing jurusan ilmu pasti dan Juridis Ekonomi (B dan C). Dengan di bukanya SMA TRIMURTI ini bertambah lagi lapangan kerja yang sebagian besar masih berstatus sebagai Mahasiswa. Ini berarti kami dapat tambahan penghasilan yang memang kami cari untuk biaya kuliah dan biaya kehidupan sehari-hari.

Penjelasan

    TRIMURTI adalah suatu bahwa SMA yang bernama TRIMURTI ini di kelola oleh salah satu agama yang istilah yang terdapat dalam salah satu agama atau kepercayaan. Tidak mengherankan jika sebagai anggota masyarakat beranggapan ada di Indonesia. Anggapan dan pendapat yang demikian itu perlu kita luruskan, para pendiri bersepakat memberi nama TRIMURTI karena sasaran pokok yang di capai ada tiga, yaitu:

1. Ingin membentuk manusia yang pandai, cerdas dan cakap
2. Ingin membentuk manusia yang berakhlak dan berbudi luhur
3. Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, melaksanakan segala perintahnya dan menjauhi segala larangan-nya

    Para pendiri yakin ilmu yang melekat pada akhlak yang tidak baik, tidak terbungkus pada jiwa yang luhur, maka tidak mungkin memenuhi tugasnya pendukung peradaban bangsa melainkan menjadi perusak peradaban bangsa. Tidak kurang jumlahnya orang pandai menjadi pendusta, penipu, pemerkosa, koruptor, manipulator yang sangat merugikan rakyat. Lebih-lebih pada waktu itu sudah terdengar adanya penyakit terutama di kalangan anak-anak muda yakni penyakit KRISIS AKHLAK. Termasuk pula di kalangan orang tua yang tidak bisa mengendalikan diri akibat membanjirnya budaya asing.

    Jadi ILMU itu seharusnya melekat pada akhlak yang baik yang di bungkus pada jiwa yang luhur dan di ikat oleh tali susila yang jujur. HIDUP hendaknya ormat-menghormati, tolong menolong, toleran, tertib dan berakhlak yang baik terhadap sesamanya, masih belum cukup apabila tidak disertai ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jadi sebagai manusia yang pancasila hubungan horizontal dan vertikal harus kita laksanakan. Kalau ketiga unsur di atas (berilmu, berakhlak dan bertakwa) telah mendarah daging dan menulang sumsum dalam diri kita Tercapailah apa yang kita cita citakan bersama yakni MANUSIA SEUTUHNYA. Nah ketiga unsur itulah yang melebur menyatu dalam istilah TRIMURTI

    Jelaslah sudah bahwa TRIMURTI bukan sekolah berdasarkan agama seperti SMA Muhammadiyah atau SMK Katolik dsb. Di SMA TRIMURTI diajarkan semua agama yang ada di Indonesia yaitu agama islam, katolik protestan, hindu untuk tiap - tiap pemeluknya. Khusus untuk agama Budha dan Advent di minta untuk belajar di luar, karena siswa penganut agama tersebut hanya satu dua orang saja.
 

Resmi Di Buka

    Pada hari rabu tanggal 18 Agustus 1945, sehari sesudah peringatan hari ulang tahun proklamasi kemerdekaan yang ke-9, dibukalah SMA TRIMURTI dengan resmi dan sejak itu pula dimulai kegiatan belajar mengajar. Ruangan kelasnya di muka gedung yang membujur dari utara ke selatan (gedung B) sebanyak 2 kelas masing – masing untuk jurusan B dan C (ilmu pasti juridis ekonomi). Ruang guru pada waktu itu bisa dikatakan tidak ada. Pada waktu itu istirahat guru duduk di teras gedung B berbincang – bincang dengan siswa atau terkadang duduk – duduk di kantor pendidikan umum.

    Menurut perjanjian antara bapak Moh Ridwan dengan Mr. Von Faber sebagai direktur pendidikan umum, SMA TRIMURTI setiap bulannya hanya diberi 65% dari jumlah pemasukan uang sekolah sedangkan 35 % untuk pendidikan umum. Uang sekolah pada waktu itu Rp.75 setiap siswa. 65 % untuk honorium guru dan keperluan sekolah lainnya. Sudah jelas bahwa uang sekolah itu tidak bisa memenuhi kebutuhan sekolah, seperti mesin ketik, mesin stensil, buku pegangan guru, alat – alat olahraga dan keperluan lainnya. Sedangkan honorium guru saja di bawah standar yakni Rp. 30,- per jam pelajaran. Uang sekolah pada waktu itu dibayarkan kepada pendidikan umum. Uang seminim itu menyebabkan kami tidak bisa berbuat banyak untuk kepentingan dan kemajuan sekolah. Beruntunglah para guru pada waktu itu bekerja tanpa pamrih. Maklumlah mereka semua bekas TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar) yang memang berjiwa pejuang murni. Jiwa patriotnya masih melekat di dada mereka untuk meneruskan dharma baktinya kepada nusa dan bangsa.

#